Budaya Makanan Indonesia : Sambal Tradisional (Part 2 – Sambal Kemanjang)

Halo semuanya! Kembali lagi di blog Food-portunist!

Kali ini saya akan melanjutkan cerita dari artikel sebelumnya yang membahas tentang makanan khas Indonesia, yaitu sambal tradisional. Secara khusus, di artikel sebelumnya saya sudah menjelaskan mengenai sambal tempoyak khas Bengkulu dan Kalimantan.

Dalam artikel ini, saya akan menjelaskan tentang sambal kemanjang dari daerah Jambi!

Sambal kemanjang merupakan salah satu sambal tradisional Indonesia yang berasal dari daerah Jambi. Bahan baku pembuatan sambal kemanjang adalah belut. Belut umumnya dikonsumsi oleh orang Kerinci yang merupakan penduduk lokal daerah Jambi untuk mencukupi kebutuhan protein hewani dalam tubuh. Hal ini dikarenakan hewan ternak seperti sapi, kerbau, dan kambing tidak untuk dikonsumsi sehari hari. Hewan ternak tersebut biasanya digunakan untuk mengangkut hasil pertanian atau untuk membajak sawah. Apabila hewan ternak ternak itu dipotong dan dikonsumsi, biasanya dilakukan pada acara-acara adat tertentu, misalnya pernikahan.

Sambal kemanjang dianggap salah satu makanan tradisional orang Kerinci dan dikategorikan sebagai makanan sabilo kasa atau makanan yang biasa dibawa ke sawah sebagai makanan pendamping bekal makan siang.

Proses pembuatan sambal kemanjang yaitu mencampurkan bawan merah, tomat, cabai giling, garam, dan belut yang sudah diikeringkan menjadi satu. Proses pembuatan sambal kemanjang oleh masyarakat lokal tidak selalu di dapur keluarga, namun terkadang kaum perempuan masyaraka lokal membuatnya di tungku pemasakan yang berada di sawah atau ladang.

Demikian cerita mengenai salah satu sambal tradisional Indonesia yang berasal dari daerah Jambi, sambal kemanjang.

Nantikan artikel-artikel Food-portunist selanjutnya ya! Keep reading!

Advertisements

Budaya Makanan Indonesia : Sambal Tradisional (Part 1 – Tempoyak)

Halo, Food-portunist!

Pada kesempatan kali ini, saya akan menceritakan sedikit tentang sambal yang terdapat di Indonesia.

Indonesia terkenal dengan makanan tradisionalnya yang beragam. Seperti yang kita ketahui salah satu jenis makanan yang sering ditemukan di Indonesia yaitu sambal. Sambal sendiri berfungsi sebagai makanan pendamping yang biasa dimakan mendampingi nasi, lalapan, lauk, maupun makanan lainnya. Namun tidak menutup kemungkinan bagi pecinta makanan pedas, sambal dapat menjadi makanan ‘wajib’ saat makan. Peranan sambal sendiri umumnya digunakan sebagai penambah selera makan.

Indonesia yang memiliki ragam budaya dan suku tentu memiliki berbagai macam sambal. Setiap daerah memiliki sambal dengan keunikannya masing-masing dan biasanya disesuaikan dengan selera lidah masyarakat lokal.  Beberapa jenis sambal yang tersebar di Indonesia diantaranya yaitu rusip dari Bangka Belitung yang sudah dijelaskan dalam beberapa artikel sebelumnya, sambal tempoyak yang terkenal dari Sumatera maupun Kalimantan, sambal dabu-dabu dari Manado, dan beberapa sambal lainnya.

Dalam artikel kali ini, saya akan membahas mengenai sambal tempoyak yang terkenal dari Sumatera dan Kalimantan. Sambal tempoyak merupakan sambal yang terbuat dari buah durian yang difermentasikan. Rasanya cenderung asam karena proses pembuatannya yang melewati proses fermentasi.

Mengapa sambal ini bisa terkenal di dua daerah? Hal ini dikarenakan sambal ini konon katanya merupakan makanan khas yang teknik pembuatannya diadaptasi dari kebudayaan Melayu. Kebudayaan Melayu tersebut kita sudah ketahui tersebar di daerah Sumatera dan Kalimantan.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa sambal tempoyak merupakan makanan tradisional Indonesia yang proses pembuatannya terdapat pengaruh dari kebudayaan Melayu. Tempoyak diceritakan dalam Hikayat Abdullah sebagai makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Namun selain itu, tempoyak juga sering disajikan dalam acara hajatan adat perkawinan maupun sunatan.

Tempoyak sendiri dianggap sebagai makanan yang sifatnya turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya pada orang Melayu yang terdapat di Sumatera, terutama Bengkulu, maupun di Kalimantan.

Demikian penjelasan tentang salah satu sambal tradisional di Indonesia, yaitu sambal tempoyak.

Sampai jumpa di artikel selanjutnya! Keep reading!

Budaya Makanan : Rusip (Part 2)

Hello, Food-portunist!

Kembali lagi dalam artikel yang akan membahas lebih lanjut mengenai kebudayaan yang mempengaruhi makanan khas Bangka Belitung, yaitu rusip!

Di artikel sebelumnya kita sudah membahas mengenai cerita dibalik penggunaan ikan bilis sebagai bahan baku pembuatan rusip [Baca disini -> Budaya Makanan : Rusip (Part 1)]. Kali ini, saya akan membahas mengenai teknik fermentasi yang digunakan dalam pembuatan rusip dan kebudayaan yang mempengaruhinya.

Happy reading!

Proses pembuatan rusip juga melibatkan teknik fermentasi yang dilakukan secara spontan tanpa adanya penambahan kultur mikroorganisme lainnya. Hal ini menyebabkan adanya variasi secara kualitas organoleptik pada setiap produk rusip.

Teknik fermentasi dalam pembuatan rusip diduga merupakan pengaruh dari kebudayaan yang masuk ke Muntok, Bangka Belitung. Terdapat beberapa kebudayaan yang diperkirakan merupakan kebudayaan asal mula pembuatan rusip, diantaranya adalah Melayu dan Tionghua. Pada saat itu, kebudayaan Melayu masuk melalui orang-orang dari Siantan yang datang ke Mentok. Sedangkan kebudayaan Tionghua masuk ketika Encek Wan Akub memerintahkan anak buahnya, Encek Wan Abdul Jabbar agar membawa pekerja dari daratan Cina untuk melakukan pertambangan di Bangka Belitung yang terkenal sebagai daerah penghasil timah yang sangat besar.

Dengan masuknya orang Melayu dan orang Tionghua, mereka tentu juga membawa kebudayaan dari tempat asal mereka. Sehingga kebudayaan itupun masuk hingga ke Bangka Belitung. Selain itu, banyaknya orang Melayu dan Tionghua yang memutuskan untuk tinggal di Bangka Belitung akhirnya menikah dengan masyarakat setempat.

Pengaruh kebudayaan Melayu dan Tionghua ke Bangka Belitung ini diduga mempengaruhi proses pembuatan rusip. Teknik fermentasi yang digunakan dalam proses pembuatan rusip dikatakan merupakan teknik yang berasal dari kebudayaan Melayu, namun penambahan arak pada beberapa jenis rusip dianggap berasal dari kebudayaan Tionghua.

Selain itu, diperkirakan terdapat pengaruh dari kebudayaan Jawa dalam proses pembuatan rusip, yaitu penambahan gula kabung atau biasa dikenal dengan gula jawa. Gula kabung di pulau Bangka Belitung diduga dibawa masuk oleh orang Jawa pada masa Kerajaan Majapahit memperluas daerah kekuasaannya hingga ke pulau Bangka Belitung di abad ke-15. Oleh sebab itu, rusip dianggap sebagai makanan hasil akulturasi dari berbagai kebudayaan di pulau Bangka Belitung.

Jadi demikian penjelasan mengenai kebudayaan yang mempengaruhi proses pembuatan rusip. Nantikan artikel-artikel selanjutnya dari Food-portunist ya!

Terima kasih! Sampai jumpa!

Budaya Makanan : Rusip (Part 1)

Hai semuanya!

Dalam kesempatan kali ini, saya akan membagikan kembali mengenai makanan khas Bangka Belitung yaitu rusip. Dalam artikel ini, saya akan menceritakan mengenai kebudayaan yang mempengaruhi proses pembuatan rusip. Informasi yang saya dan kelompok saya dapatkan mengenai kebudayaan yang ada dibalik dari makanan khas Bangka Belitung ini adalah informasi yang kami sudah kumpulkan dari berbagai sumber, seperti hasil wawancara dengan ahli budaya setempat, pengrajin rusip asli Bangka Belitung, akademisi, pemerintah di bidang kebudayaan, serta studi literatur terkait topik ini.

Berdasarkan hasil penggalian kami mengenai kebudayaan yang mempengaruhi proses pembuatan rusip, ternyata belum ada sejarah pasti yang menceritakan mengenai hal ini. Namun, dikatakan bahwa rusip merupakan makanan turun-temurun yang sudah dikonsumsi oleh masyarakat setempat sejak lama.

Penggunaan ikan bilis dalam pembuatan rusip juga memiliki ceritanya tersendiri. Pada masa yang lalu, masyarakat yang tinggal di daerah Bangka Belitung umumnya hanya memiliki perahu kecil dan hanya bisa pergi memancing ikan di sekitar pesisir pantai. Hal ini dikarenakan kapal-kapal besar hanya dimiliki oleh beberapa orang yang termasuk dalam golongan orang kaya. Ikan bilis sendiri merupakan ikan yang banyak ditemukan di sekitar pesisir pantai. Oleh sebab itu penggunaan ikan bilis banyak digunakan sejak masa yang lalu. Hal ini juga yang membuat rusip dapat digolongkan sebagai makanan yang universal karena dapat dikonsumsi oleh masyarakat disemua golongan.

DSC_0012.JPG

Gambar 1. Ikan bilis segar

Pada musim tertentu, jumlah ikan bilis yang didapatkan oleh masyarakat bisa menjadi sangat banyak. Namun karena ikan bilis seperti ikan pada umumnya yang memiliki kadar air yang tinggi dan karakteristik yang mudah ditumbuhi oleh mikroorganisme, maka masyarakat mencari cara untuk dapat menyimpan ikan bilis yang jumlahnya melimpah tersebut dalam jangka waktu yang panjang. Maka itu, terciptalah rusip yang merupakan ikan bilis yang sudah melalui proses fermentasi.

Sampai sini dulu cerita mengenai kebudayaan dibalik dari rusip, makanan khas dari Bangka Belitung. Tunggu cerita selanjutnya dari kebudayaan rusip di artikel selanjutnya ya!

Terima kasih!

Budaya Makanan : Review Penelitian “From Junk Food to Treats” oleh Wei-ting Chen

Kembali lagi di Food-portunist!

Dalam artikel kali ini, saya akan membahas hasil review salah satu bagian dari buku yang berisi tentang budaya makanan dan pola konsumsi masyarakat.

Buku yang kami review berjudul “Food, Culture, & Society Volume 19”. Lebih spesifik lagi, kami memfokuskan review kami pada bab “From Junk Food to Treats: How Poverty Shapes Family Food Practices” yang ditulis oleh Wei-ting Chen.

Bab ini menuliskan tentang penelitian Chen terhadap perilaku ibu berpendapatan rendah di Amerika Serikat dalam memberikan makanan kepada anak ditengah tantangan yang datang dari masalah berupa kurangnya kemampuan ekonomi mereka.

Penelitian yang dilakukan oleh Chen dimulai dari hasil observasinya pada seorang ibu berusia 25 tahun yang bernama Natalie. Natalie mengungkapkan bahwa Ia tidak akan membiarkan ada makanan dengan kadar gula yang tinggi, seperti jus dengan high fructose corn syrup, di dalam rumah mereka. Namun, ketika Chen mendampingi Natalie berbelanja untuk terus  melakukan observasinya, Chen menemukan bahwa Natalie tetap membeli beberapa produk yang mengandung kadar gula yang tinggi. Natalie mengungkapkan bahwa alasannya membeli produk tersebut meskipun Ia sudah menetapkan prinsip untuk di rumahnya yaitu Ia menganggap setiap orang berhak untuk mendapatkan ‘treats’ sesekali.

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara penyediaan makanan dan pola pengasuhan anak pada ibu rumah tangga berpenghasilan rendah. Selain itu, penelitian ini juga ingin mengetahui bagaimana konteks eksternal yang terus menerus membentuk praktik pemberian makanan keluarga.

Secara singkat, hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Chen ini dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian yang pertama yaitu mothering through food & nutrition. Pada bagian ini ditemukan bahwa perbedaan low-income mother dengan middle-class mother yaitu middle-class mother lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk membersihkan sayuran maupun menyiapkan makanan dari bahan mentah (unprocessed ingredients). Sedangkan low income mother lebih mengutamakan tindakan penyediaan makanan untuk anak dibandingkan aspek kualitatif dari  makanan yang disediakan.

Kemudian, bagian yang kedua dari hasil penelitian ini adalah using treats to express love and consumption power. Treats yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu sugary dan salty snack diluar dari batasan ‘eating right’ yang memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Hasil yang didapatkan yaitu low-income mother berusaha untuk menciptakan masa kanak-kanak yang normal untuk anaknya dengan menyediakan treats yang umumnya didapatkan oleh anak-anak. Hal ini menunjukkan bahwa para ibu juga memikirkan aspek kehidupan sosial anak saat memberikan makanan untuk anak. Selain itu, ibu perpendapatan rendah juga berusaha menunjukkan bahwa Ia mampu memberikan masa kanak-kanak yang normal kepada anaknya dengan memberikan ‘treats’ meskipun keadaan ekonominya yang cukup lemah.

Bagian terakhir dari hasil penelitian ini yaitu poverty and the junk-food treat continuum. Pada bagian ini sitemukan bahwa low-income mother umumnya dapat membedakan makanan yang sehat dan yang tidak sehat. Namun, akibat keterbatasan ekonomi yang mereka hadapi, pola konsumsi makanan dalam keluarga juga cenderung memilih makanan yang murah dan tidak sehat. Tentunya ini akan berdampak negatif untuk waktu jangka panjang.

Demikian hasil review dari bab “From Junk Food to Treats” yang sudah kami lakukan. Terima kasih sudah membaca! Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Proses Pembuatan Rusip

Halo readers Food-portunist!

Seperti yang sudah disampaikan di artikel sebelumnya, kali ini akan ada penjelasan mengenai proses pembuatan rusip yang saya langsung liput dari pengrajin rusip lokal di Kabupaten Sungai Liat, Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung

Pada tanggal 11 Oktober 2017 yang lalu, saya dan teman saya Virgin melakukan observasi langsung pembuatan rusip oleh pengrajin rusip lokal di Bangka Belitung, tepatnya di Kabupaten Sungai Liat. Selama 4 hari kami berada di Provinsi Bangka Belitung untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai rusip, baik dari proses produksi maupun kebudayaan yang mempengaruhi rusip tersebut.

Hari itu kami datang pagi-pagi ke tempat produksi rusip di Kabupaten Sungai Liat. Proses pembuatan rusip biasanya dilakukan di pagi hari karena ikan yang digunakan harus ikan bilis segar dan basah. Oleh sebab itu, ikan bilis harus segera diolah setelah tiba dari pasar.

Proses pembuatan rusip dimulai dengan membersihkan ikan bilis dengan cara mencuci dan membuang bagian kepala dari ikan bilis tersebut. Pencucian dilakukan berulang hingga ikan bilis bersih. Setelah itu ikan bilis ditiriskan dan air sisa pencuciannya dibuang. Kemudian, pada wadah yang terpisah dari ikan bilis, gula kabung dan garam ditumbuk. Banyaknya garam yang digunakan yaitu 7% dari total berat ikan bilis yang digunakan, sedangkan jumlah gula kabungnya 5% dari total berat ikan bilis.

DSC_0014.JPG

Gambar 1. Ikan bilis yang sudah dibersihkan dan dibuang kepalanya

Setelah proses persiapan bahan selesai, dilakukan proses pencampuran seluruh bahan. Ikan bilis, gula kabung, dan garam dicampurkan, kemudian diaduk hingga seluruh tumbukan gula dan garam menyatu dengan ikan bilis. Pada akhir proses, seluruh campuran bahan dimasukkan kedalam wadah tertutup dan pastikan tidak ada udara yang dapat masuk ke dalam wadah tersebut. Hal ini dikarenakan proses pembuatan rusip harus melewati proses fermentasi terlebih dahulu selama 7 hari.

DSC_0051.JPG

Gambar 2. Ikan bilis yang sudah dicampurkan dengan garam dan gula kabung, serta siap untuk difermentasi

Berikut ini diagram alir pembuatan rusip yang kami amati selama di Bangka Belitung :

proses-pembuatan-rusip.png

Demikian pembahasan mengenai proses pembuatan rusip yang sebelumnya sudah kami amati.

Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di artikel-artikel selanjutnya!

Budaya Makanan : Mengenal Makanan Khas Bangka Belitung – Rusip

Halo semuanya!

Hari ini saya akan membahas mengenai makanan khas dari Provinsi Bangka Belitung yaitu rusip! Pada mata kuliah ‘Budaya Makanan’ yang saya ambil di semester ini, saya mendapatkan tugas untuk mencari tahu dan meneliti lebih lanjut mengenai pengaruh kebudayaan terhadap suatu makanan, dan kelompok saya mendapatkan rusip sebagai materinya.

Rusip adalah salah satu makanan khas Provinsi Bangka Belitung berupa ikan bilis yang difermentasikan. Bahan-bahan untuk membuat rusip yaitu ikan bilis sebagai bahan utama, gula aren, dan garam. Gula aren berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi bakteri dalam proses fermentasi. Proses fermentasi dalam proses pembuatan rusip terjadi selama 1 minggu atau lebih.

DSC_0053.JPGRusip, makanan khas Bangka Belitung

Umumnya masyarakat lokal di Provinsi Bangka Belitung mengonsumsi rusip sebagai lauk pendamping nasi dan untuk meningkatkan nafsu makan. Rusip dapat dikonsumsi dalam kondisi mentah maupun sudah melalui proses pemasakan. Selain itu, rusip juga dikonsumsi dengan sayur-sayuran seperti terong rebus, daun singkong rebus. Layaknya lalapan yang dimakan dengan sambal terasi di daerah Jawa.

Demikian perkenalan dengan makanan khas Provinsi Bangka Belitung, rusip! Tunggu informasi lebih lanjut mengenai rusip di artikel selanjutnya yaa!

Sebagai spoiler untuk artikel selanjutnya : akan ada penjelasan mengenai proses pembuatan rusip yang saya liput langsung dari pengrajin rusip lokal di Kabupaten Sungai Liat, Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

Keep reading Food-portunist yaa!