Budaya Makanan : Mengenal Makanan Khas Bangka Belitung – Rusip

Halo semuanya!

Hari ini saya akan membahas mengenai makanan khas dari Provinsi Bangka Belitung yaitu rusip! Pada mata kuliah ‘Budaya Makanan’ yang saya ambil di semester ini, saya mendapatkan tugas untuk mencari tahu dan meneliti lebih lanjut mengenai pengaruh kebudayaan terhadap suatu makanan, dan kelompok saya mendapatkan rusip sebagai materinya.

Rusip adalah salah satu makanan khas Provinsi Bangka Belitung berupa ikan bilis yang difermentasikan. Bahan-bahan untuk membuat rusip yaitu ikan bilis sebagai bahan utama, gula aren, dan garam. Gula aren berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi bakteri dalam proses fermentasi. Proses fermentasi dalam proses pembuatan rusip terjadi selama 1 minggu atau lebih.

DSC_0053.JPGRusip, makanan khas Bangka Belitung

Umumnya masyarakat lokal di Provinsi Bangka Belitung mengonsumsi rusip sebagai lauk pendamping nasi dan untuk meningkatkan nafsu makan. Rusip dapat dikonsumsi dalam kondisi mentah maupun sudah melalui proses pemasakan. Selain itu, rusip juga dikonsumsi dengan sayur-sayuran seperti terong rebus, daun singkong rebus. Layaknya lalapan yang dimakan dengan sambal terasi di daerah Jawa.

Demikian perkenalan dengan makanan khas Provinsi Bangka Belitung, rusip! Tunggu informasi lebih lanjut mengenai rusip di artikel selanjutnya yaa!

Sebagai spoiler untuk artikel selanjutnya : akan ada penjelasan mengenai proses pembuatan rusip yang saya liput langsung dari pengrajin rusip lokal di Kabupaten Sungai Liat, Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung.

Keep reading Food-portunist yaa!

Advertisements

Introducing : Budaya Makanan

Halo, readers! Kembali lagi di Food-portunist!

Kali ini saya akan membahas tentang budaya makanan, mengenai pengaruh kebudayaan terhadap suatu makanan. Secara umum saya akan menjelaskan maksud dari budaya makanan tersebut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), budaya adalah (1) pikiran; akal budi; (2) adat istiadat; (3) sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju); dan (4) sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah.

Sedangkan makanan menurut KBBI adalah (1) segala sesuatu yang dapat dimakan (seperti penganan, lauk-pauk, kue; (2) segala bahan yang kita makan atau masuk ke dalam tubuh yang membentuk atau mengganti jaringan tubuh, memberikan tenaga, atau mengatur semua proses dalam tubuh; (3) rezeki.

Oleh sebab itu, budaya makanan yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu suatu budaya atau kebiasaan dari suatu kelompok manusia (daerah, lokasi, suku, dan penggolongan lainnya) yang menciptakan suatu makanan dengan filosofi tersendiri dibaliknya. Pada pembahasan ini, saya akan memfokuskan pada budaya makanan di Indonesia.

Terdapat banyak makanan di Indonesia yang memiliki filosofi tersendiri dibaliknya. Misalnya, tumpeng khas Jawa yang biasanya dibuat saat perayaan suatu peristiwa penting. Diketahui bahwa tumpeng memiliki makna filosofi yang berkaitan erat dengan hidup manusia, tumpeng dianggap sebagai ungkapan rasa syukur yang diwujudkan dalam penyajian makanan yang lengkap dan berbagai macam jenis lauk (Nurlaila, 2012).

Sampai sini dulu penjelasan mengenai budaya makanan, terutama di Indonesia. Tunggu kelanjutan dari pembahasan mengenai budaya makanan di artikel selanjutnya ya. Sampai jumpa!

 

Referensi :

Nurlaila, Siti. 2012. Kreasi Tumpeng Tradisional. Penerbit Demedia, Jagakarsa.

Bazaar Produk Keterampilan Manajemen NFT 2014

Hello again guys!

Hari ini saya akan bercerita mengenai akhir dari mata kuliah Keterampilan Manajemen yang diampu oleh Bapak Dr. Albert Kuhon untuk program studi NFT angkatan 2014 di Surya University.

Seperti yang teman-teman pembaca sudah tahu dari postingan saya sebelumnya, pada mata kuliah ini kami ditugaskan untuk membuat produk pangan yang unik dan memiliki nilai jual, serta kami harus mengurusnya agar mendapatkan perizinan PIRT.

Setelah melewati 1 semester dengan menggodok ide produk, strategi marketing, mengurus perizinan produk, dan lain sebagainya, kami mengakhiri mata kuliah ini dengan menggelar bazaar produk pangan kami di R.101, Surya University, Tangerang.

Kelompok kami, kelompok Lili membuat produk rempeyek daun pepaya. Teman-teman kami dari kelompok lain juga memiliki produk yang tidak kalah menarik. Ada yang membuat snack stick dari tempe, ada kremes dalam kemasan yang bisa dikonsumsi sebagai pendamping makanan berat, ada pula teri menjerit yang memiliki beberapa level kepedasan, ada pula selai yang dibuat dalam bentuk lembaran slice, dan masih banyak produk lainnya yang unik-unik!

Berikut beberapa hasil produk dari NFT 2014 untuk mata kuliah Keterampilan Manajemen.

FOTO BAZAAR MANAJEMEN

Semoga tetap bisa terus berlanjut dan berkembang ya!

Sampai sini dulu, artikel kali ini. Keep reading ya!

Perizinan PIRT (Bagian Akhir) – Sertifikat PIRT

Hai semuanya!

Pada postingan kali ini, saya akan menyampaikan kabar gembira yaitu kelompok Lili sudah mendapatkan sertifikat PIRT untuk produk Papayek! Yeay!

Sebelumnya, kami diberi tahu bahwa waktu proses dari berkas-berkas setelah inspeksi kira-kira 12-14 hari kerja. Namun saat mencapai hari ke 7, kami sudah mulai menghubungi pihak Dinas Kesehatan dan BPM-PTSP untuk bertanya mengenai proses perizinan dari produk kami. Hingga akhirnya pada tanggal 25 Juli 2017, kami dihubungi dan diberi tahu bahwa sertifikat PIRT kami sudah keluar dan bisa dipakai.

Berikut sertifikat PIRT yang kami dapatkan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang.

PIRT Papayek

Kami bersyukur pada akhirnya kami bisa mendapatkan sertifika PIRT ini walaupun melewati banyak proses yang tentu saja tidak mudah, mengingat ini adalah pengalaman pertama kami dalam mengajukan perizinan untuk PIRT. Tapi melalui semua proses itu, kami belajar banyak dan pada akhirnya menghasilkan buah yang manis.

Untuk teman-teman pembaca yang nanti mau mengajukan perizinan, saya akan memberikan beberapa tips saat melewati prosesnya.

  1. Kumpulkan dan lengkapi berkas dalam waktu yang singkat

Jangan menunda-nunda pengajuan surat dan pengumpulan berkas lainnya. Misalnya, untuk mendapatkan sertifikat PKP (Penyuluhan Keamanan Pangan) diperlukan untuk mengikuti penyuluhan terlebih dahulu. Maka teman-teman harus cepat mencari slot peserta penyuluhan di Dinas Kesehatan terdekat karena penyuluhan hanya dilakukan dalam waktu beberapa bulan sekali.

Begitu pula dengan berkas bukti perbaikan yang harus dimasukkan ke Dinas Kesehatan setelah tahapan inspeksi. Sebisa mungkin berkas tersebut dimasukkan dalam waktu 1-2 hari setelah inspeksi agar petugas cepat memproses perizinan produk kita.

  1. Pro-aktif bertanya kepada petugas

Petugas Dinas Kesehatan dan BPM-PTSP pada dasarnya ingin membantu kita selaku warga untuk mendapatkan izin tersebut. Namun, para petugas tidak mungkin menghubungi terus-menerus dan mengingat kita secara detail. Oleh sebab itu, sebagai pihak yang memiliki kepentingan kita harus lebih proaktif bertanya mengenai progress dari proses pengajuan izin PIRT kita tersebut. Tapi jangan sampai mengganggu para petugas dengan menghubunginya setiap hari ya!

  1. Persiapkan lokasi produksi saat inspeksi

Pada saat proses inspeksi, pastikan lokasi produksi Anda bersih, tertata rapi, setiap pintu ruangan diberi label nama ruangan, setiap kotak bahan baku diberi label nama dan tanggal penyimpanan. Semuanya harus jelas dan bersih, serta tertata rapi agar tidak banyak perbaikan yang dilakukan dan proses pengajuan perizinan dapat berjalan dengan lancar dan cepat.

Sekian kabar gembira dan tips dari saya.

Keep reading!

Label Produk yang Memenuhi Persyaratan

Halo semuanya!

Pada postingan sebelumnya, saya sudah ada menyinggung sedikit mengenai label produk. Label produk tidak hanya mementingkan aspek estetika seperti yang selama ini kita kira. Namun ternyata label produk pangan harus memuat informasi mengenai produk sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Seperti yang sudah saya sampaikan, saat inspeksi lokasi produksi Papayek yang dilakukan oleh petugas dari Dinas Kesehatan dan BPM-PTSP Kabupaten Tangerang, terdapat beberapa hal yang harus dilakukan perbaikan, salah satunya adalah perbaikan label produk.

Pada saat itu label produk kami dianggap belum memenuhi persyaratan dan ketentuan yang diatur dalam PP Nomor 69 tahun 1999 tentang Pangan. Berdasarkan peraturan tersebut, label produk pangan yang baik sekurang-kurangnya harus memuat keterangan sebagai berikut

  1. Nama produk
  2. Daftar bahan yang digunakan atau komposisinya
  3. Berat bersih atau isi bersih
  4. Nama dan alamat pihak yang memproduksi
  5. Nomor P-IRT
  6. Tanggal kadaluarsa dan kode produksi

Menurut petugas Dinas Kesehatan, label produk kami tulisannya terlalu kecil, lalu tidak ada lokasi produksi, dan tidak terdapat jenis produk pangannya. Oleh sebab itu, kami melakukan perbaikan label produk Papayek. Setelah dilakukan perbaikan label, pada akhirnya label kami diterima oleh pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang.

Berikut adalah label dari produk kelompok kami yaitu Papayek.

final label

Sampai sini dulu penjelasan saya mengenai label produk. Saya berharap nanti saat teman-teman pembaca mau membuat label produk pangan, teman-teman dapat membuatnya sesuai persyaratan yang berlaku.

Keep reading!

Perizinan PIRT (Bagian 4) – Penyerahan Berkas dan Inspeksi Lokasi

Halo semuanya!
Kali ini saya akan membahas mengenai penyerahan seluruh berkas persyaratan ke BPM-PTSP (Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu) dan tahapan inspeksi untuk mendapatkan sertifikat PIRT.

Setelah kelompok kami melengkapi seluruh berkas yang ada, kami menyerahkan berkasnya ke BPM-PTSP Kabupaten Tangerang yang berada di Tigaraksa pada tanggal 21 Juni 2017. Penyerahan berkas ke BPM-PTSP berlangsung cepat. Saat tiba di kantor BPM-PTSP, saya menuju loket pelayanan yang berada di lantai dasar. Setelah itu saya diberi formulir yang harus saya isi dengan informasi dari produk yang akan didaftarkan perizinannya, yaitu deskripsi produk, surat pernyataan akan membuat label yang sesuai standar, denah dan ukuran lokasi produksi, proses pembuatan produk, dan peta menuju lokasi produksi. Kemudian seluruh berkas dan formulir tersebut diserahkan kepada petugas untuk diproses.

Setelah seluruh berkas dan formulir sudah diserahkan kepada petugas, maka petugas memberikan saya surat tanda terima berkas yang menunjukkan bahwa benar saya sudah menyerahkan seluruh kelengkapan berkas untuk pengajuan perizinan PIRT dan masuk dalam antrian jadwal inspeksi.

Surat Tanda Terima

 

Tahap selanjutnya setelah penyerahan berkas persyaratan yaitu tahap inspeksi ke lokasi produksi. Inspeksi lokasi produksi ini dilakukan oleh petugas dari Dinas Kesehatan dan didampingi oleh petugas BPM-PTSP.

Pada tanggal 12 Juli 2017, kami melewati tahapan inspeksi dari petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang yang juga didampingi oleh petugas dari BPM-PTSP Kabupaten Tangerang. Jumlah petugas yang datang saat inspeksi di lokasi produksi Papayek yaitu dua orang dari Dinas Kesehatan dan 1 orang dari BPM-PTSP.

Proses inspeksi dilakukan mulai dari melihat ruang produksi, ruang penyimpanan bahan baku, toilet, dan ruang pengemasan. Banyak pertanyaan yang ditanyakan oleh para petugas, misalnya “Apakah setelah produksi produk langsung didistribusikan atau disimpan terlebih dahulu?”. Kemudian banyak masukan yang diberikan pula oleh para petugas, seperti pemasangan hexosfan di ruang penyimpanan bahan baku untuk menjaga suhu dan kelembaban ruangan.

Setelah proses inspeksi berakhir, kami diberikan rangkap kedua dari formulir pemeriksaan sarana produksi pangan industri rumah tangga yang dibuat oleh Dinas Kesehatan. Berdasarkan hasil inspeksi saat itu, ada beberapa perbaikan yang harus dilakukan dan dilaporkan kembali ke Dinas Kesehatan agar proses pengajuan izin PIRT bisa diteruskan. Perbaikan-perbaikan tersebut antara lain adalah :

  1. Belum ada berkas catatan produksi
  2. Label produk masih harus diperbaiki
  3. Belum ada penanda di ruangan produksi

Oleh sebab itu kami melakukan beberapa perbaikan tersebut dan menyerahkan bukti perbaikannya ke Dinas Kesehatan keesokan harinya.

Sampai sini dulu penjelasan lanjutan mengenai pengajuan izin PIRT, sampai jumpa di postingan selanjutnya!

Keep reading!

Perizinan PIRT (Bagian 3)

Halo semuanya! Kembali lagi dalam postingan yang akan menjelaskan lebih lanjut mengenai pengajuan izin PIRT.

Sebelumnya kita sudah mengetahui syarat untuk mengajukan perizinan PIRT, kemudian kita juga sudah mengetahui apa itu PKP dan cara untuk mengikuti PKP. Kali ini saya akan membahas lebih lanjut mengenai syarat-syarat lain untuk mengajukan perizinan tersebut.

Seperti yang sudah kita ketahui, banyak persyaratan berkas yang perlu dilengkapi untuk mengajukan izin PIRT di daerah Kabupaten Tangerang. Bagi yang masih belum tahu, dapat melihatnya di postingan kami sebelumnya.

Klik disini untuk melihat Perizinan PIRT (Bagian 1)

Saya akan membahas persyaratan berkas lainnya yang mungkin cukup membingungkan untuk kita sebagai masyarakat umum. Mengapa saya dapat mengatakan ada syarat yang membingungkan? Karena to be honest, saya sendiri juga merasakan kesulitan itu saat mempersiapkan berkas-berkas persyaratan tersebut.

Salah satu persyaratan yang ada yaitu surat yang menyatakan status bangunan dalam bentuk akte hak milik/sewa/kontrak. Dalam kasus kelompok Lili, dikarenakan kami menggunakan rumah yang statusnya sewa, maka kami melampirkan fotokopi surat perjanjian sewa. Kemudian, berkaitan dengan berkas akte hak milik/sewa/kontrak, persyaratan selanjutnya adalah fotokopi IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Mungkin bagi produsen yang menggunakan rumah milik sendiri persyaratan ini bukanlah hal yang menyulitkan. Tapi bagi produsen yang menggunakan rumah sewa, hal ini dapat menghambat dan menyulitkan. Seperti kasus yang kami alami, pemilik rumah yang mengontrakkan rumah kepada penanggungjawab kelompok kami tidak bersedia untuk memberikan fotokopi dari IMB rumahnya.

Apabila para pembaca juga mengalami kasus yang sama dengan kelompok kami, jangan khawatir! Hal yang perlu Anda lakukan adalah melampirkan surat lain yang menyatakan status kepemilikan rumah atau tanah tersebut atas nama pemilik rumah yang namanya juga tercantum dalam surat perjanjian sewa, contohnya surat tanah.

Persyaratan lain yang mungkin juga dapat membingungkan saat melengkapi berkas-berkas persyaratan ini adalah data perusahaan makanan IRT, data produk makanan, dan surat pernyataan akan membuat label yang memenuhi syarat. Tidak perlu khawatir, berkas ini merupakan berkas yang terlampir dalam formulir pengajuan izin PIRT yang diberikan oleh petugas dari BPMPTSP, jadi pastikan Anda mengisi formulir ini. Formulir ini dapat diambil dan dibawa pulang untuk diisi bersamaan dengan proses pelengkapan berkas lainnya maupun diisi bersamaan saat penyerahan seluruh berkas lainnya.

Setelah itu, ada persyaratan untuk melampirkan hasil uji laboratorium produk makanan. Berkas hasil uji laboratorium produk makanan ini bisa didapatkan dari Laboratorium Dinas Kesehatan. Jadi produsen perlu memasukkan sampel produknya ke Dinas Kesehatan dan minta dilakukan pengujian sesuai yang diminta dalam persyaratan pengajuan izin PIRT. Sama seperti Sertifikat PKP, berkas Hasil Uji Laboratorium Produk Makanan juga tidak perlu dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan di daerah yang sama dengan Dinas Kesehatan yang nantinya akan diajukan perizinan PIRT-nya. Seperti kelompok Lili, kami juga melakukan pengujian sampel produk di Dinas Kesehatan Kota Tangerang.

Hasil uji labLaporan Hasil Uji Laboratorium ‘PAPAYEK’

Demikian penjelasan lebih lanjut mengenai syarat pengajuan PIRT di Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Untuk selebihnya akan saya bahas di artikel selanjutnya ya!

Keep reading!