Perizinan PIRT (Bagian 1)

Halo semuanya!

Seperti yang sudah disampaikan pada postingan sebelumnya, kali ini saya akan membahas lebih lanjut mengenai perizinan PIRT.

PIRT adalah produk industri rumah tangga. Suatu produk yang diproduksi oleh industri rumah tangga termasuk dalam kategori ini. Setiap produk pangan yang akan dijual ke pasar, harus memiliki izin edar. Untuk produk IRT, izin edarnya berupa nomor IRT di Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan yang bekerja sama dengan BPMPTSP (Badan Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu).

Pengajuan izin untuk PIRT memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dari pihak produsen. Setiap daerah di Indonesia memiliki persyaratan yang berbeda-beda, namun umumnya tidak berbeda jauh antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Pada kesempatan kali ini, saya akan memberitahukan persyaratan apa saja yang harus dipenuhi apabila produsen produk IRT ingin mengajukan izin PIRT ke Dinas Kesehatan di daerah Kabupaten Tangerang.

Persyaratan berkas yang harus dipenuhi untuk mengajukan perizinan PIRT ke Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, yaitu :

  1. Fotocopy KTP pemohon/pemilik yang masih berlaku
  2. Akte pendirian perusahaan
  3. Surat yang menyatakan status bangunan dalam bentuk Akte Hak Milik/Sewa/Kontrak
  4. Fotocopy IMB (Izin Mendirikan Bangunan) sesuai peruntukannya
  5. Data perusahaan makanan Industri Rumah Tangga
  6. Data produk makanan
  7. Peta lokasi
  8. Gambar denah bangunan
  9. Surat Keterangan Domisili Usaha (SKDU)
  10. Pas foto ukuran 4×6 sebanyak 2 (dua) lembar
  11. Surat pernyataan akan membuat label yang memenuhi syarat
  12. Fotocopy Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan
  13. Sertifikat Hasil Uji Laboratorium Produk Makanan
  14. Fotocopy Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) yang telah dimiliki (bagi perpanjangan)

Setelah melengkapi persyaratan berkas, produsen dapat langsung menyerahkan berkasnya ke petugas yang berada di loket BPMPTSP. BPMPTSP Kabupaten Tangerang terletak di Gedung-Gedung Kelompok Badan, jalan K. H. Sarbini, No. 1, Tigaraksa 15720, Banten. Untuk informasi lebih lanjut mengenai persyaratan, dapat juga menghubungi petugas setempat di telp. (021) 5993545.

Demikian untuk informasi tentang perizinan PIRT kali ini. Tunggu kelanjutan dari perizinan PIRT, terutama untuk produk PAPAYEK dari kelompok Lili di postingan selanjutnya ya!

Keep reading!

Introducing New Product : PAPAYEK

Halo semuanya!

Pada kesempatan kali ini, saya akan memperkenalkan produk makanan ringan baru yang dirancangkan oleh kelompok kami (kelompok Lili) yaitu PAPAYEK. Papayek merupakan makanan ringan berbasis daun pepaya yang diolah menjadi rempeyek.

Daun pepaya.jpg

Mengapa kami memilih daun pepaya?
Jawabannya sederhana, pepaya merupakan salah satu bahan pangan yang banyak digunakan untuk kebutuhan pangan masyarakat Indonesia, terutama buahnya. Akan tetapi, pemanfaatan buah pepaya yang sangat tinggi jumlahnya itu tidak berbanding lurus dengan pemanfaatan daun pepaya. Oleh sebab itu, kami menggunakan daun pepaya yang suplainya melimpah.

Suplai daun pepaya yang sangat banyak di Indonesia ini membuat kelompok kami berusaha untuk mengembangkan produk yang memanfaatkan daun pepaya ini. Akhirnya kami memutuskan untuk mengembangkan pembuatan produk rumahan rempeyek daun pepaya yang kami beri merek dagang PAPAYEK.

Pada proses pengembangan produk rempeyek, kami berulang kali mencari formulasi yang tepat untuk pembuatan adonannya. Setelah beberapa kali trial & error, akhirnya kami mendapatkan formulasi tetap yang akan digunakan seterusnya saat memproduksi Papayek.

Selanjutnya, kami akan mengajukan perizinan PIRT untuk mendapatkan nomor PIRT dari Dinas Kesehatan. Nomor PIRT ini merupakan nomor izin edar suatu produk pangan. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai perizinan dan hal lainnya yang berkaitan dengan PIRT, serta perkembangan dari produk PAPAYEK akan dibahas pada artikel selanjutnya ya!

Keep reading Food-portunist!

Keterampilan Manajemen : Langkah Awal Membuka Usaha di Sektor Pangan

Seperti yang sudah dijelaskan pada artikel sebelumnya, ada dua kiblat yang dapat kita pilih sebelum memulai bisnis di bidang pangan, yaitu ketersediaan sumber daya dan adanya permintaan pasar.

Kedua kiblat tersebut dapat disebut juga dengan istilah “Technology push” dan “Market pull“.

  1. Technology push
    Pada technology push ini, bahan bakunya tersedia secara melimpah namun belum ada teknologi yang diterapkan untuk pengolahan bahan bakunya dan belum populer dikalangan pasar, sehingga kita sebagai produsen harus melakukan usaha yang lebih untuk memperkenalkan produk yang akan dihasilkan kepada masyarakat.
  2. Market pull
    Pada market pull, produk yang akan dihasilkan sudah ada di pasaran sebelumnya, namun permintaan pasar yang terus ada memungkinkan untuk kita sebagai produsen baru untuk terjun ke dalam bisnis tersebut. Produksi produk ini dilakukan atas permintaan pasar yang ada.

Setelah penetapan kiblat usaha yang akan dilakukan, perlu dilakukan juga survey pasar dan bahan baku agar kita sebagai produsen tahu arah dan tujuan dari usaha bisnis tersebut. Survey pasar dapat dilakukan dengan melakukan buying intention survey.

Kemudian, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan tetapkan sebelum melangkah lebih lanjut dalam membangun bisnis di sektor pangan ini. Hal-hal yang perlu diperhatikan tersebut antara lain adalah :

  1. Penentuan tujuan, visi, dan misi perusahaan
  2. Penetapan sasaran usaha
  3. Pengaturan strategi

Dalam pengaturan strategi, perlu dirancangkan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam membangun perusahaan dan bagaimana cara untuk memanfaatkan secara maksimal setiap sumber daya yang ada agar tujuan yang sudah ditetapkan dapat tercapai.

Pengantar : Keterampilan Manajemen

Manajemen adalah upaya pemanfaatan sumber daya yang ada untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditetapkan.

Sebelum memulai suatu bisnis, perlu dilakukan penetapan tujuan, visi, dan misi dari usaha bisnis tersebut. Hal ini bertujuan agar penyusunan strategi dalam berbisnis dapat dilakukan.

Terdapat dua kiblat yang dapat digunakan, apabila Anda ingin menjalankan suatu bisnis di bidang pangan. Kedua kiblat tersebut antara lain :

1.  Ketersediaan sumber daya (Technology push)
Kegiatan bisnis, produksi dilakukan karena ada sumber daya yang melimpah dan mudah didapatkan. Sumber daya yang dimaksud dapat berupa bahan baku produksi, teknologi, maupun sumber daya manusia (kreativitas).

2. Pasar (Market pull)
Pilihan kiblat ini dapat dilakukan apabila terdapat permintaan pasar yang besar namun belum terpenuhi. Situasi ini biasanya terjadi karena masih ada permintaan pasar yang belum terjawab oleh teknologi yang ada.

 

Pengantar : Peraturan Pangan & Perlindungan Konsumen

Peraturan digolongkan menjadi tiga, yaitu :
– Perintah
– Larangan
– Anjuran

Sanksi digolongkan menjadi dua, yaitu :
– Administratif (dapat  berupa pencabutan izin maupun peringatan)
– Denda ataupun pidana
Etika merupakan aturan yang paling umum ditemukan, namun sanksinya tidak jelas. Etika sudah menyangkut urusan moral.
Contoh : makanan yang sudah basi di re-producing kembali, kemudian dijual.

Nilai (value) merupakan aturan tidak tertulis yang apabila dilanggar dapat menimbulkan reaksi dari masyarakat.
Contoh : sebuah warung tetap berjualan saat bulan puasa.

Ketentuan dari peraturan, diantaranya adalah :
– Berlaku umum
– Terdapat masa berlakunya
– Terdapat area berlakunya

Peraturan yang berlaku untuk industri makanan, yaitu :
1. Ketenagakerjaan atau keamanan kerja (K3)
2. Keamanan pangan
3. Perizinan
4. Pajak
5. Lingkungan hidup atau pengolahan limbah
6. Perdagangan / Merek / Hak Cipta
7. Sertifikasi halal
8. Kandungan / Kadar
9. Penggunaan MSG
10. Ekspor – Impor
11. Penggunaan pengawet
12. UU Koperasi
13. Penggunaan pewarna
14. Penggunaan pemanis / pengental
15. Mikrobiologi